
Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam kultur Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), corak keagamaan saya, sebagaimana orang-orang kampung, lebih condong kepada pemikiran Nahdlatul Ulama secara kultural. Hingga tahun 1990-an, saya dan beberapa teman yang pernah “mondok tentatif”, artinya mondok namun tidak benar-benar menetap secara permanen di kobong tetap dibentuk oleh ornamen ke-NU-an dan ke-Aswaja-an yang kuat dalam cara berpikir dan bersikap.
Salah satu contoh nyata dari nilai ke-Aswaja-an itu adalah pola hidup sederhana yang diajarkan oleh para ajengan kampung. Sejak mulai berkesadaran terhadap fenomena sosial, saya lebih banyak menyaksikan bagaimana para ajengan hidup dalam kesahajaan. Rumah mereka sederhana, meskipun secara ukuran mungkin lebih baik dari rumah warga kebanyakan. Cara berpakaian pun bersahaja, termasuk gaya hidupnya.
Sebagai tokoh agama, para ajengan memerankan dan memantaskan dirinya tanpa berlebihan, selalu mewaspadai peringatan Al-Qur’an, khususnya ayat pertama surah At-Takaatsur tentang larangan bermegah-megahan.
Cara hidup zuhud yang selama ini menjadi ajakan moral itu mulai mengalami pengelupasan pasca-era reformasi. Muncul hembusan dan bisikan yang sering kita dengar: “Rasulullah juga kaya!”, disuarakan oleh mereka yang tiba-tiba tampil di layar televisi sebagai agamawan. Dalih lainnya, “Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya.”
Sejak itu, kita menyaksikan munculnya dikotomi yang cukup tajam antara ajengan perkampungan dan ulama perkotaan; yang satu tetap memamerkan kesederhanaan dan kezuhudan, sementara yang lain tampil dengan polesan kemewahan.
Memang benar, Islam tidak melarang umatnya menjadi saudagar kaya. Namun, posisi itu sejatinya berlaku bagi umat pada strata tertentu; pengusaha, pegawai, dan kelompok masyarakat yang secara sosiologis masih memiliki kemelekatan dengan materi.
Ketentuan tersebut menjadi tidak relevan bagi dua kelompok; tokoh agama dan abdi negara. Keduanya seharusnya tidak menempatkan kekayaan sebagai orientasi hidup, karena posisi moral dan sosial mereka menuntut pelepasan kemelekatan terhadap materi. Ukuran kekayaan tokoh agama bukanlah properti pribadi, melainkan intelektualitas, ilmu, dan keteladanan hidup.
Sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa sistem sosial kita pernah menempatkan ilmu dan kaweruh sebagai penentu utama strata kehidupan manusia, bukan tumpukan harta. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tipis pula kemelekatannya terhadap materi. Ia tidak lagi disibukkan oleh kegelisahan tentang esok hari, bahkan ketika hari ini terasa serba terbatas. Inilah etos hidup yang dulu menjadi fondasi moral masyarakat.
Nilai itulah yang diperlihatkan oleh para ajengan perkampungan dan para ajengan sepuh Nahdlatul Ulama di masa lalu. Mereka tidak terjebak pada bujukan atau fitnah yang dibungkus dalih agama, seperti alasan bahwa “umat harus kaya raya agar bisa bersedekah.”
Para ajengan memahami bahwa sedekah tidak selalu berbentuk materi, melainkan juga ilmu, keteladanan, dan kebermanfaatan sosial. Mereka memahami maqam dirinya; bahwa kemegahan dan kemewahan adalah wilayah umat secara umum, bukan wilayah tokoh agama.
Dalam dua tahun terakhir, PBNU seolah memasuki wilayah kelabu. Godaan atau fitnah itu hadir dalam rupa materi bernama “tambang”. Organisasi keagamaan yang lebih dari satu abad bergerak dalam pembinaan karakter bangsa, kemandirian umat, moderasi, dan inklusi keberagamaan, kini diuji oleh wilayah yang sejatinya bukan domainnya.
Mungkin ada niat baik di awal, meningkatkan ekonomi umat. Walakin persoalan muncul ketika amanah diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Sebuah dalil sederhana yang sering disampaikan dari mimbar ke mimbar, tetapi kerap diabaikan dalam praktik dengan alasan pragmatis; “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?”
Kendati demikian, saya tidak memandang Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang rusak. NU tetaplah kapal besar yang didirikan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, dengan jejak sejarah panjang bagi bangsa ini. Penilaian saya terhadap NU tidak berubah, bukan karena fanatisme sempit, melainkan karena kesadaran bahwa kesalahan manusia tidak serta-merta merusak nilai luhur institusinya. Lukisan yang buruk tidak selalu menandakan pelukisnya buruk.
Yang perlu ditegaskan hari ini adalah soal penempatan maqam. Ajengan dan ulama NU harus kembali menempatkan diri pada wilayahnya sebagai tokoh agama, bukan sebagai elite ekonomi. Mereka bukan figur yang menokohkan diri, melainkan ditokohkan oleh keteladanan hidup.
Ulama NU harus kembali menjadi teladan kehidupan; hidup sederhana, zuhud, berjarak dari kemewahan, dan sepenuhnya mengabdikan diri pada ilmu, kaweruh, serta pembinaan umat. Dari sanalah marwah NU akan kembali tegak, bukan karena kekuatan materi, tetapi karena kejernihan moral dan keagungan teladan para ajengannya.
Dalam dua tahun terakhir, PBNU seolah memasuki wilayah kelabu. Godaan atau fitnah itu hadir dalam rupa materi bernama “tambang”. Organisasi keagamaan yang lebih dari satu abad bergerak dalam pembinaan karakter bangsa, kemandirian umat, moderasi, dan inklusi keberagamaan, kini diuji oleh wilayah yang sejatinya bukan domainnya.
Mungkin ada niat baik di awal, meningkatkan ekonomi umat. Walakin persoalan muncul ketika amanah diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Sebuah dalil sederhana yang sering disampaikan dari mimbar ke mimbar, tetapi kerap diabaikan dalam praktik dengan alasan pragmatis; “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?”
Kendati demikian, saya tidak memandang Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang rusak. NU tetaplah kapal besar yang didirikan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, dengan jejak sejarah panjang bagi bangsa ini. Penilaian saya terhadap NU tidak berubah, bukan karena fanatisme sempit, melainkan karena kesadaran bahwa kesalahan manusia tidak serta-merta merusak nilai luhur institusinya. Lukisan yang buruk tidak selalu menandakan pelukisnya buruk.
Yang perlu ditegaskan hari ini adalah soal penempatan maqam. Ajengan dan ulama NU harus kembali menempatkan diri pada wilayahnya sebagai tokoh agama, bukan sebagai elite ekonomi. Mereka bukan figur yang menokohkan diri, melainkan ditokohkan oleh keteladanan hidup.
Ulama NU harus kembali menjadi teladan kehidupan; hidup sederhana, zuhud, berjarak dari kemewahan, dan sepenuhnya mengabdikan diri pada ilmu, kaweruh, serta pembinaan umat. Dari sanalah marwah NU akan kembali tegak, bukan karena kekuatan materi, tetapi karena kejernihan moral dan keagungan teladan para ajengannya.
Tags
Kolom