Perisai Pancasila dan Optimus Prime



Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat di setiap perkampungan mulai menghias wajah tempat tinggal mereka dengan berbagai ornamen yang lekat dengan suasana kemerdekaan. Warna merah putih selalu mendominasi pernak-pernik kemerdekaan, mulai dari umbul-umbul, tiang bendera, gapura, hingga berbagai hiasan lainnya. Rata-rata ornamen tersebut menampilkan kreasi bercorak tradisional dengan bahan-bahan sederhana seperti kayu, bambu, dan kertas.

Di kampung halaman saya, Balandongan, ada perpaduan menarik antara corak dan motif tradisional dengan sesuatu yang bersentuhan dengan citra futuristik. Tepat di pinggir jalan yang biasa diberi tajuk “Blok M” atau belokan Mang Jai (alm.), berdiri patung Optimus Prime setinggi sekitar 2,5 meter yang sedang memegang perisai Pancasila.

Patung tersebut dibuat dari kardus bekas. Inisiatif semacam ini biasanya muncul dari generasi milenial yang memiliki kedekatan emosional dengan tokoh dalam Transformers tersebut. Meski demikian, mayoritas masyarakat lebih sederhana menyebutnya sebagai “Patung Robot”.

Baru tahun ini salah satu ornamen Agustusan menampilkan tema futuristik yang dibalut sosok salah satu pemimpin faksi Autobots, Optimus Prime. Pada tahun-tahun sebelumnya, ketika gagasan dekorasi lebih banyak didominasi oleh generasi Baby Boomers dan Generasi X, atribut yang dibuat umumnya berupa romantisme perjuangan kemerdekaan.

Patung pahlawan dari kertas dengan rangka bambu sedang memegang senjata, pesawat tempur, tank baja, hingga sosok pahlawan yang sedang bergelayut pada parasut menjadi pemandangan yang lazim ditemukan. Semua itu merupakan bentuk visualisasi sederhana tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Hiasan lainnya berupa gapura dari kayu bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia” dan angka 17-8-1945. Ada pula plastik berwarna merah putih serta bambu yang dibuat menyerupai bambu runcing dan dipasang berdempetan, sehingga keseluruhan kampung menghadirkan nuansa tradisional yang kuat. Namun, inisiatif generasi X dan milenial di Balandongan pada 2026 ini tampaknya mulai bertransformasi.

Ada gagasan konvergensi antara sesuatu yang tradisional dengan hal-hal yang benar-benar modern. Pernak-pernik yang erat dengan budaya tetap dipertahankan. Bagian atas gapura di setiap gang, misalnya, dihias dengan atap rumah yang terbuat dari “hateup”, kemudian dipadukan dengan ornamen lampu kerlap-kerlip hingga disco ball atau bola disko.

Patung Optimus Prime menjadi penanda modernitas dan masa depan. Sosok tersebut dipadukan dengan tulisan “17 Agustus 1945” menggunakan dekorasi Sci-Fi Font yang memiliki ciri struktur square atau block font.

Masyarakat yang membuat patung Optimus Prime tentu tidak selalu melatarbelakangi pilihannya dengan alasan yang mendasar dan mendalam. Mengapa mereka memilih membuat Optimus Prime, bukan tokoh robot lain seperti Voltus?

Namun, setidaknya Optimus Prime sebagai tokoh fiksi dipandang oleh generasi milenial sebagai sosok pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kelompoknya, bahkan terhadap manusia yang oleh faksi Autobots dipandang sebagai makhluk yang harus diselamatkan. Bumi dan manusia menjadi rumah serta teman baru bagi para Autobots.

Bagi Optimus Prime, meskipun manusia kerap melakukan kesalahan, mereka memiliki kebaikan, kebebasan, dan jiwa yang berharga untuk dilindungi. Jika makhluk yang oleh faksi Decepticons dianggap sebagai “barang rongsokan” saja memiliki pandangan semacam ini terhadap bumi dan manusia, bukankah kita sebagai manusia seharusnya memiliki pandangan yang lebih luas terhadap alam?

Kisah Autobots juga memiliki kemiripan dengan kisah para pejuang yang harus menghadapi berbagai ancaman. Dalam salah satu film Transformers, misalnya, Autobots harus bergerilya menghadapi aliansi Lockdown dan manusia. Dan dari aliansi ceroboh ini, tanpa disadari, manusia justru membangkitkan kembali jiwa Megatron melalui robot jahat baru bernama Galvatron.

Pada babak berikutnya, manusia menyadari bahwa ketika mereka bersekutu dengan Decepticons, mereka justru telah membangun pandangan yang keliru mengenai siapa yang sebenarnya berpihak kepada mereka. Kesalahan memilih kawan akhirnya membawa manusia pada ancaman yang mereka ciptakan sendiri.

Karena itu, pembuatan patung Optimus Prime di Balandongan sejatinya dapat dimaknai sebagai kebangkitan kembali kesadaran terhadap pelestarian alam semesta dan kepedulian yang mendalam terhadap lingkungan. Ia dapat menjadi simbol tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan bumi sebagai rumah bersama.

Optimus Prime pernah menyampaikan pesan kepada manusia: “Kalian mungkin kehilangan kepercayaan pada kami, tetapi jangan pernah kehilangan kepercayaan pada diri kalian sendiri. Dalam setiap perang, ada ketenangan di antara badai. Akan ada hari-hari di mana kita kehilangan keyakinan. Hari-hari ketika sekutu kita berbalik melawan kita. Namun, hari itu tidak akan pernah datang, di mana kami meninggalkan planet ini dan penduduknya.”

Pada kemerdekaan ke-81 ini, jiwa Optimus Prime, pahlawan yang memiliki kepedulian terhadap manusia dan sesamanya, semestinya mengejawantah dalam kehidupan berbangsa. Republik ini harus tetap berdiri dan tidak tercerai-berai menjadi faksi-faksi, apalagi bubar menjadi negara-negara bagian yang terpecah-pecah.

Tentu saja, semuanya harus dimulai dari penguatan ikatan sosial di lingkungan masyarakat terkecil, yaitu perkampungan. Kita juga perlu menyadari bahwa keinginan untuk tercerai-berai, membangun faksi, atau bahkan membentuk negara-negara baru dari kepingan NKRI sebenarnya dapat tumbuh dari ketidakpercayaan terhadap pengelola negara selama beberapa dekade terakhir.

Di sisi lain, tokoh-tokoh di setiap wilayah secara perlahan dapat saja dirasuki oleh jiwa Megatron yang haus akan validasi kekuasaan. Rakyat kecil hanya menjadi titian untuk menaikkan mereka, sementara sebagian lainnya berubah menjadi sasaran baru para Megatron kecil.

Skeptisisme semacam ini tidak muncul begitu saja. Ia memiliki latar belakang berupa berbagai fenomena sosial dan politik yang terus berlangsung selama 81 tahun Indonesia merdeka.

Maka, renungkanlah apa yang pernah dikatakan oleh Optimus Prime: “Kebebasan adalah hak semua makhluk hidup. Bumi tidak boleh mengalami nasib yang sama seperti Cybertron. Manusia mungkin melakukan kesalahan, tetapi mereka memiliki jiwa, sebuah kapasitas untuk kebaikan yang layak untuk diperjuangkan.”

Ada penyesalan mendalam sekaligus tekad untuk belajar dari sejarah. Cybertron hancur karena perang saudara yang dipicu oleh keserakahan, ego, dan kebencian antarsaudara. Optimus melihat bumi yang indah sebagai kesempatan kedua. Ia tidak ingin kegelapan, kehancuran, dan kepunahan yang menimpa rumah asalnya kembali terjadi di planet tempat manusia tinggal.

Kisah Optimus Prime bukan hanya tentang robot, peperangan, atau pertarungan antara Autobots dan Decepticons. Ia dapat dibaca sebagai metafora tentang tanggung jawab moral seorang pemimpin untuk melindungi kehidupan dan memastikan generasi baru tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

Di Balandongan, metafora itu hadir dalam bentuk sederhana: kardus bekas yang dirangkai menjadi sosok robot setinggi 2,5 meter, dengan sebuah perisai Pancasila di tangannya, yang mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak harus menyingkirkan tradisi, dan modernitas tidak semestinya membuat kita kehilangan akar. Di antara ‘hateup’, bambu runcing, lampu kerlap-kerlip, dan sosok Optimus Prime, ada satu pesan yang sebenarnya sederhana; Indonesia boleh berubah, tetapi persatuan, kemanusiaan, kebebasan, dan kepedulian terhadap bumi harus tetap menjadi sesuatu yang kita lindungi bersama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak