Setiap tahun, setiap musim penerimaan murid baru, keluhan yang sama selalu terdengar. Orangtua kebingungan. Siswa cemas. Sekolah kewalahan menjawab pertanyaan. Grup WhatsApp penuh dengan tangkapan layar. Media sosial ramai oleh pertanyaan yang sebenarnya sederhana, bagaimana cara mendaftarkan siswa ke sekolah pilihan? Ironisnya, semua itu terjadi di tengah sistem yang diklaim semakin modern.
Kita tampaknya masih terjebak pada sebuah keyakinan bahwa semakin canggih aplikasi yang digunakan, semakin baik pula pelayanan yang diberikan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam beberapa kasus, aplikasi justru menjadi hal baru yang membuat masyarakat semakin jauh dari layanan yang ingin mereka akses.
Masalahnya bukan pada teknologi. Masalahnya adalah cara berpikir kita terhadap teknologi. Sering kali aplikasi dibuat berdasarkan cara berpikir birokrasi. Semua aturan, semua tahapan, semua persyaratan dimasukkan ke dalam sistem. Hasilnya memang rapi dari sisi administrasi, tetapi rumit dari sisi pengguna. Orangtua yang hanya ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah dipaksa memahami berbagai istilah yang bahkan tidak pernah mereka dengar sebelumnya.
Mereka harus memahami kata-kata mentereng seperti; domisili, afirmasi, prestasi, mutasi, kuota, pemeringkatan, verifikasi, validasi, hingga mekanisme sanggah. Belum lagi harus memastikan dokumen yang diunggah sesuai format, ukuran, dan ketentuan yang ditetapkan.
Bagi sebagian orang, hal itu mungkin mudah. Namun bagi sebagian besar masyarakat, terutama mereka yang sehari-hari tidak akrab dengan teknologi digital, proses tersebut terasa seperti ujian tambahan sebelum anaknya benar-benar masuk sekolah.
Di sinilah kita perlu bertanya. Apakah tujuan digitalisasi pelayanan publik untuk memudahkan masyarakat atau justru memindahkan kerumitan dari meja pelayanan ke layar gawai dan membagikan masalah kepada orang lain?
Kita sering menganggap antrean panjang di sekolah sebagai tanda pelayanan yang buruk. Padahal antrean itu bisa jadi lebih manusiawi dibandingkan sistem digital yang membuat masyarakat harus bertanya ke sana kemari hanya untuk memahami langkah pertama. Pelayanan publik yang baik bukanlah pelayanan yang seluruhnya daring. Pelayanan publik yang baik adalah pelayanan yang mudah dipahami.
Kalau seorang ibu yang hanya menggunakan WhatsApp setiap hari masih harus meminta bantuan tetangga untuk mendaftarkan anaknya, berarti ada yang salah dengan desain sistemnya. Kalau seorang ayah harus menonton beberapa video tutorial hanya untuk memahami jalur pendaftaran, berarti sistem itu belum benar-benar ramah masyarakat.
Penerimaan murid baru seharusnya dirancang dari sudut pandang warga, bukan dari sudut pandang penyelenggara. Masyarakat tidak peduli bagaimana algoritma bekerja. Mereka tidak ingin memahami rumus pemeringkatan yang rumit. Mereka hanya ingin mengetahui tiga hal sederhana; apakah anaknya memenuhi syarat, sekolah mana yang bisa dipilih, dan bagaimana peluang diterimanya.
Seharusnya cukup satu kali mengisi data. Cukup satu kali mengunggah dokumen. Selebihnya sistem yang bekerja. Sistem yang membaca data, sistem yang menentukan jalur yang sesuai, dan sistem yang menjelaskan hasil secara terbuka.
Teknologi terbaik bukan teknologi yang paling rumit. Teknologi terbaik adalah teknologi yang hampir tidak terasa keberadaannya karena begitu mudah digunakan. Kita perlu mengingat bahwa ukuran keberhasilan sebuah aplikasi bukanlah banyaknya fitur yang tersedia. Ukurannya adalah seberapa sedikit pertanyaan yang diajukan masyarakat setelah aplikasi itu diluncurkan.
Karena pada akhirnya, tujuan penerimaan murid baru bukanlah menunjukkan kecanggihan sistem. Tujuannya adalah memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan dengan mudah, adil, dan tanpa membuat Orangtuanya kebingungan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti terlalu percaya pada aplikasi. Yang perlu kita percayai adalah prinsip pelayanan yang sederhana, jika masyarakat masih bingung, berarti pekerjaan kita belum selesai.
Tags
Analisis