Berbeda dengan masyarakat Balandongan RW 05 yang membuat Patung “Optimus Prime” sebagai salah satu ornamen Agustusan 2026, warga Pasir Pogor RW 07 Kelurahan Sudajayahilir lebih memilih menampilkan adegan rasa. Di salah satu pematang sawah, mereka membuat ornamen dekoratif berupa dua lambang hati bertuliskan “Pasir Pogor di Hati”. Pesannya begitu jelas, bahwa kampung ini akan selalu dicintai oleh warganya.
Gagasan pembuatan ornamen dekoratif Agustusan setiap kampung di wilayah Baros dan Lembursitu yang saya jumpai dari tahun ke tahun memang terus berkembang, baik dari sisi kreativitas maupun konten yang disajikannya. Sebelum sampai ke Pasir Pogor, kita akan melewati Kampung Pangkalan. Di kampung ini kita akan melihat berbagai tulisan dengan konten kreatif yang dibuat di atas jalan. Dapat dikatakan, ini merupakan bentuk vandalisme kreatif atau semi-mural.
Gagasan semacam ini akan lebih kreatif jika media yang digunakan mulai dipindahkan, misalnya ke papan triplek yang dijajarkan di pinggir jalan agar dapat digunakan untuk berswafoto. Dengan cara demikian, tulisan dan gambar yang dibuat warga tidak cepat hilang terhapus hujan atau kendaraan yang melintas. Kreativitas warga juga dapat berkembang menjadi bagian dari wajah kampung yang memiliki ciri tersendiri.
Hanya saja, biasanya gagasan-gagasan urban semacam ini selalu muncul secara tiba-tiba dan tampak sporadis. Hal ini wajar karena masyarakat membuat ornamen dekoratif didasarkan atas perencanaan spontan dan keinginan untuk urun rembug dalam menyambut kemerdekaan Indonesia. Jadi, kiprah sekecil apa pun yang mereka perlihatkan harus diapresiasi secara jujur, di saat masih banyak para “begundal” negeri ini yang menggerus uang rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Warga Pasir Pogor yang membuat dekorasi bernuansa perasaan adalah tampilan dari kejujuran masyarakat kecil. Ini semakna dengan ungkapan, “makan tak makan kita kumpul” atau “hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang.” Kedua ungkapan perasaan ini bukan kebohongan. Seperti halnya warga Pasir Pogor yang mengatakan kampungnya selalu di hati, ada rasa yang tumbuh dari hubungan panjang antara manusia dengan tempat tinggalnya.
Kampung bagi masyarakat kecil sering kali memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekumpulan rumah yang berdiri berdekatan. Di sana ada halaman tempat anak-anak bermain, jalan yang setiap hari dilalui, sawah tempat orangtua bekerja, masjid tempat warga berkumpul, warung tempat orang berbincang, dan rumah-rumah yang menyimpan cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, ketika warga Pasir Pogor menulis “Pasir Pogor di Hati”, mereka sedang menuliskan sesuatu yang sebenarnya sudah lama hidup dalam ingatan mereka.
Rasa memiliki terhadap kampung tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Seseorang mungkin pergi mencari pekerjaan ke kota lain, merantau ke luar daerah, atau tinggal bertahun-tahun di tempat yang jauh, tetapi kenangan tentang kampung halaman sering tetap mengikuti. Ada suara azan yang pernah didengar sejak kecil, jalan setapak yang pernah dilalui dengan kaki telanjang, sawah yang dahulu menjadi tempat bermain, dan wajah tetangga yang perlahan berubah karena usia. Semua itu menjadi bagian dari ingatan yang sulit digantikan oleh kemewahan tempat lain.
Karena itu, dua bentuk hati di pematang sawah Pasir Pogor memiliki makna yang menarik. Hati biasanya digunakan untuk menyatakan cinta kepada seseorang. Warga justru menggunakannya untuk menyatakan cinta kepada tempat tinggalnya. Ada pesan bahwa kampung bukan tempat yang hanya dilewati ketika pulang, melainkan ruang kehidupan yang ikut membentuk siapa diri seseorang.
Cinta kepada kampung juga tidak harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Membersihkan selokan, menjaga jalan kampung, membantu tetangga, merawat sawah, menghias lingkungan ketika Agustusan, atau sekadar ikut berkumpul dalam kegiatan warga merupakan bentuk sederhana dari rasa memiliki. Pasir Pogor di Hati menjadi kalimat pendek yang mewakili tindakan-tindakan kecil tersebut.
Kita sering berbicara tentang Indonesia dalam ukuran yang sangat besar. Kita membicarakan negara, pemerintah, pembangunan, ekonomi, politik, dan berbagai persoalan nasional. Padahal, Indonesia yang kita cintai itu sesungguhnya tersusun dari kampung-kampung seperti Pasir Pogor, Balandongan, Pangkalan, dan ribuan kampung lain yang memiliki cerita masing-masing.
Kemerdekaan pun akan terasa lebih dekat ketika dibicarakan dari halaman rumah dan jalan kampung. Warga memasang bendera, membuat gapura, menghias jalan, mengecat tembok, membuat mural, atau merangkai kardus menjadi patung. Mungkin tidak ada anggaran besar di balik semua itu, tetapi ada tenaga, waktu, gagasan, dan perasaan yang diberikan secara sukarela.
Di tengah kehidupan yang semakin sering diukur dengan uang, tindakan seperti itu terasa penting. Warga masih mau mengerjakan sesuatu bersama-sama tanpa terlebih dahulu menghitung berapa keuntungan yang akan mereka dapatkan. Mereka bekerja karena ada rasa memiliki terhadap tempat tinggalnya.
Mungkin itulah makna paling sederhana dari “Pasir Pogor di Hati”. Sebuah kampung tidak perlu memiliki gedung megah atau ornamen mahal untuk mengatakan bahwa warganya mencintai tempat tersebut. Dua bentuk hati yang dibuat di pematang sawah sudah cukup untuk menyampaikan pesan bahwa di antara kesibukan hidup, ada tempat yang selalu ingin dikenang dan didatangi kembali.
Kita boleh saja pergi jauh, memiliki rumah di tempat lain, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, atau menikmati kehidupan kota yang lebih ramai. Namun, manusia tetap membutuhkan sebuah tempat yang dapat disebut sebagai “pulang”. Bagi warga Pasir Pogor, mungkin tempat itu adalah kampung kecil yang kini mereka hiasi dengan dua lambang hati.
Dan mungkin kemerdekaan yang sesungguhnya juga berawal dari perasaan sederhana seperti merasa memiliki tempat tinggal, menjaga lingkungan, menghargai tetangga, dan bersedia melakukan sesuatu untuk kampung sendiri. Sebab negara yang besar dibangun dari masyarakat yang memiliki rasa terhadap ruang hidupnya.
“Pasir Pogor di Hati” adalah kalimat pendek dari masyarakat kecil yang sedang mengatakan kepada siapa pun yang melintas bahwa “di sini kami tinggal, di sini kami tumbuh, di sini kami memiliki kenangan, dan di sinilah hati kami berada.”
Tags
Kolom