
JAKARTA, RJFM – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman secara mengejutkan mengundurkan diri dari jabatannya, Jumat (30/1/2026). Pengunduran diri ini disampaikannya dalam konferensi pers singkat di Press Room BEI, Jakarta, pukul 09.10 WIB, tidak lama setelah perdagangan saham dibuka.
Iman hadir didampingi sejumlah direksi, termasuk Direktur Pengembangan Jeffrey Hendrik dan Direktur Keuangan Risa Effennita Rustam. Ia menyatakan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab.
”Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin menyatakan mengundurkan diri. Saya berharap ini yang terbaik buat pasar modal,” tutur Iman, tanpa membuka sesi tanya jawab.
Menurut pihak BEI, untuk sementara akan ditunjuk Pelaksana Tugas (PLT) hingga direktur utama baru diangkat secara definitif. Pengunduran diri Iman, yang seharusnya menjabat hingga 2026, terjadi di luar jadwal RUPS.
Latar Belakang: Kepanikan Pasar dan Ancaman MSCI
Pengunduran diri ini terjadi di tengah gejolak hebat pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sangat dalam dalam dua hari terakhir, dipicu oleh peringatan keras dari lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
MSCI menyatakan kekhawatiran terhadap transparansi data kepemilikan saham dan mekanisme perdagangan di BEI. Lembaga itu mengancam akan menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market pada Mei 2026 jika perbaikan tidak segera dilakukan. Ancaman ini memicu aksi jual besar-besaran dan arus keluar modal asing yang mencapai Rp 11,05 triliun dalam sepekan hingga Kamis (29/1).
Iman Rachman, yang diangkat pada Juni 2022, sebelumnya memiliki karier panjang di sektor keuangan dan BUMN, termasuk sebagai Direktur di Pertamina dan Direktur Utama PPA. Ia menutup konferensi pers dengan harapan, ”Mudah-mudahan indeks kita yang pagi ini dibuka membaik akan terus membaik di hari-hari berikutnya.”
Langkah pengunduran diri ini disebut mengejutkan bahkan bagi tim humas BEI yang mendampingi. Kini, BEI harus segera mencari pucuk pimpinan baru di tengah tekanan berat untuk memulihkan kepercayaan investor dan menjawab tantangan dari MSCI.