Bayi yang telah berusia 40 hari dalam perkembangannya mulai memiliki kesadaran awal dan mulai bersosialisasi dengan lingkungan terdekat, terutama keluarga. Dalam tradisi Sunda yang akomodatif terhadap ajaran Islam, fase tersebut dirayakan melalui kenduri bernama Mahinum dan dipadukan dengan kegiatan marhabaan melalui vacanna atau pembacaan Barjanzi. Tradisi ini merupakan bentuk komunikasi sosial primer seorang bayi dengan lingkungannya.
Lingkungan tradisional memandang Mahinum sebagai bagian penting dari pakem kehidupan yang harus dilestarikan. Memang, masyarakat tradisional dahulu tidak terlalu memandang penting dampak dan pengaruh Mahinum secara logis maupun ilmiah.
Namun jika dicermati secara lebih utuh, prosesi tersebut pada dasarnya merupakan “algoritma sosial” yang disusun secara alami sebagai penyangga kehidupan manusia sejak awal kelahirannya. Masyarakat tradisional yang sering dipandang tertinggal justru memiliki cara berpikir yang sangat jeli terhadap perkembangan manusia, bahkan dalam hal-hal yang kini sering diabaikan oleh masyarakat modern.
Bagi bayi yang baru menginjak usia 40 hari, Mahinum merupakan proses pengenalan dirinya kepada lingkungan sosial yang lebih luas daripada keluarga, yakni masyarakat. Kehadiran para tamu, lantunan Barjanzi, serta doa-doa yang dibacakan menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat menerima kehadiran manusia baru di lingkungannya. Pengakuan sosial semacam ini memiliki makna penting dalam pembentukan sistem sosial dan perkembangan manusia sejak dini.
Sebagai manusia baru, bayi memerlukan stimulasi berupa suara-suara yang baik, lantunan doa, dan ucapan penuh kebaikan agar tidak mengalami “kebocoran verbal”, yakni situasi ketika bayi mulai menyerap berbagai ucapan tanpa filter. Pada usia 40 hari, bayi mulai aktif merespons suara dan lebih peka terhadap lingkungan.
Bahkan dalam banyak hal, bayi mampu menangkap pertanda yang sering kali luput dari penginderaan orang dewasa. Dalam konteks inilah, lantunan Barjanzi dan kalimat-kalimat thayyibah menjadi bentuk stimulasi spiritual dan emosional yang memiliki nilai mendalam.
Tradisi Mahinum juga mengandung perhatian besar terhadap kondisi ibu yang baru melahirkan. Berbagai makanan yang disajikan, seperti kudapan berbahan kacang-kacangan serta umbut kelapa muda atau humut, sejatinya merupakan “superfood” tradisional yang kaya protein dan nutrisi serta diyakini membantu memulihkan energi ibu pascamelahirkan. Tradisi ini menunjukkan bahwa leluhur Sunda tidak hanya memikirkan aspek spiritual, tetapi juga memahami pentingnya pemulihan fisik seorang ibu.
Di sisi lain, berkumpulnya masyarakat di rumah bayi yang baru berusia 40 hari menjadi simbol kuatnya modal sosial masyarakat paguyuban atau gemeinschaft. Kehadiran tetangga, keluarga, dan masyarakat sekitar bukan hanya mempererat hubungan sosial antarmanusia, tetapi juga membangun kohesi transendental dengan jiwa manusia baru yang baru hadir di dunia. Ada bentuk pengakuan bersama bahwa bayi tersebut adalah bagian dari komunitas yang harus dijaga dan dibesarkan bersama.
Para leluhur Sunda sesungguhnya tidak sembarangan dalam menentukan tradisi mana yang harus dipilih, dipertahankan, dan diwariskan secara turun-temurun. Mereka menyusun formula budaya melalui “tali paranti” agar manusia yang lahir tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi lingkungannya.
Karena itu, masyarakat modern seharusnya mulai berpikir jernih, mengapa saat ini generasi sekarang justru lebih mudah tersulut emosi, gemar berdebat, dan mudah saling menyalahkan? Bisa jadi karena manusia modern telah “udar tali gada”, tidak lagi memegang teguh tali nilai yang diwariskan leluhur.
Harus diakui, tradisi Mahinum kini mulai luntur dan sering dipandang sebagai praktik yang tidak dicontohkan Rasulullah. Namun di saat yang sama, masyarakat modern justru dengan mudah menerima praktik lain seperti perayaan ulang tahun yang juga bukan bagian dari tradisi leluhur maupun praktik keagamaan awal. Paradoks inilah yang sering terjadi dalam kehidupan modern; tradisi lokal dianggap tidak pantas dan mudah dicap “bidah”, sementara budaya lain yang datang dari luar diterima begitu saja tanpa kritik.
Padahal, Mahinum sejatinya merupakan cara masyarakat Sunda menyambut kedatangan manusia baru dengan doa, lantunan Barjanzi, dan kalimat-kalimat kebaikan yang mengikat jiwa bayi dengan lingkungan sosial dan masa depannya. Tradisi ini adalah simbol kasih sayang sosial, penguatan spiritual, dan bentuk kesadaran kolektif bahwa setiap manusia yang lahir memerlukan penerimaan, dukungan, dan harapan dari lingkungannya.
Tags
Kolom