
Sekolah kejuruan yang berfokus pada pendidikan vokasi lazim menerapkan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi para siswanya. Perusahaan, perkantoran, atau lembaga menjadi rujukan untuk menempatkan peserta didik sesuai jurusan mereka.
Sub-bagian Dokumentasi Pimpinan (Dokpim) sering dipilih sebagai lokasi PKL, terutama bagi jurusan komunikasi visual dan kehumasan.
Rata-rata para siswa menunjukkan sikap antusias, terutama ketika diberi tugas liputan ke lapangan, mendokumentasikan kegiatan wali kota, wakil wali kota, sekda, atau ketua TP-PKK.
Alasannya sederhana; praktik lapangan dianggap sejalan dengan tujuan utama mereka mengikuti PKL.
Enam bulan lalu, Dokpim menerima empat siswa PKL dari SMKN 4 Sukabumi. Penerimaan dilakukan secara sederhana oleh tim yang dipimpin Bu Ochie, bukan karena alasan efisiensi anggaran semata, tetapi karena memang begitulah gaya kerja kami, langsung praktik tanpa banyak seremoni.
Andai saja hendak bercanda, mungkin kami juga tidak akan menyalakan petasan atau menabuh genderang sebelum liputan.
Saat penerimaan itu, saya sempat berseloroh kepada para siswa, “Pantesan PKL di Kota Sukabumi sulit ditertibkan, soalnya diprogramkan juga oleh sekolah-sekolah!”
Mereka sempat bingung dengan kalimat bersayap yang saya lontarkan. Setelah dijelaskan bahwa yang satu adalah Praktik Kerja Lapangan dan yang satu lagi Pedagang Kaki Lima, barulah mereka paham.
Saat ini memang banyak akronim yang memiliki sama dalam penulisan dengan makna berbeda, sebagaimana P3K yang dulu dikenal sebagai kotak pertolongan pertama para kecelakaan, namun kini berarti Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.
Enam bulan berlalu, Rini, Zara, Arga, dan Deva terlihat menikmati masa PKL mereka. Dalam banyak kesempatan, mereka terlibat penuh dalam kegiatan peliputan dan perilisan berita pimpinan.
Hal ini terjadi karena kerja tim di Dokpim selalu mengutamakan komunikasi, saling memahami, dan saling mengisi kekurangan. Ditambah dengan manajemen Bu Ochie yang selalu mengedepankan sikap terbuka, membuat anak-anak PKL merasa kerasan berada di lingkungan kami.
Pada suatu kesempatan, saya sempat bertanya kepada mereka: jika boleh memilih, apakah mereka ingin tetap melanjutkan PKL hingga lulus atau kembali ke sekolah? Jawaban mereka mungkin ambigu, tetapi sorot mata mereka mengisyaratkan keinginan untuk melanjutkan PKL.
Wajar saja, bagi anak muda yang sedang memasuki masa remaja dan dewasa, belajar yang fleksibel, praktik nyata, dan bersosialisasi lebih menarik dibanding rumus-rumus yang membebani pikiran.
Sekolah tentu perlu membenahi metode pembelajaran agar peserta didik betah belajar tanpa merasa tertekan, namun tetap memberikan pemahaman kepada mereka bahwa hidup tidak boleh dijalani seenaknya.
Meskipun demikian, kami tidak dapat memperpanjang masa PKL karena hal itu merupakan kewenangan sekolah. Kami juga tidak berhak menahan para siswa, sekalipun kontribusi mereka sangat membantu kerja tim.
Pada hari Jumat, sebagai bentuk penghormatan, kami memberikan hadiah ala kadarnya, makan bersama, dan berfoto (wefie). Tidak ada kesedihan yang berlebihan, karena saya tahu, sebenarnya mereka telah menjadi bagian dari Dokpim dan ingin tetap bersama kami.
Tags
Kolom
