Anak-anak yang tumbuh pada era 1980–1990-an, khususnya di wilayah perdesaan seperti Balandongan, Cipanengah, Santiong, Lembursitu, dan sekitarnya, dapat dikatakan sebagai generasi beruntung.
Mereka hidup di masa transisi antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, mereka mulai mengenal produk-produk teknologi seperti televisi, radio, dan gim elektronik; di sisi lain, mereka masih menikmati permainan tradisional di lapang terbuka, sawah, ladang, dan kebun.
Mereka terbiasa memanjat pohon, menangkap ikan di selokan, membuat boneka dari daun singkong, terompet dari daun kelapa muda, serta gubuk kecil di sudut sawah saat musim panen tiba.
Mereka hidup di dua dunia, antara permainan tradisional dan godaan modernitas seperti Nintendo serta game watch yang disewakan. Namun, sebagian besar tetap memilih bermain bersama alam.
Tanpa disadari, setiap dini hari mereka menyaksikan bintang-bintang yang bertabur di langit musim kemarau. Rasi dan konstelasi bintang yang terlihat menjelang subuh menjadi penanda bahwa manusia di masa itu masih sering menatap langit dalam keheningan sebagai bentuk pengakuan akan kekerdilan di hadapan pemilik semesta.
Kala itu, langit malam masih murni, belum diselimuti cahaya buatan akibat revolusi industri dan pemakaian lampu berlebihan yang kini menyebabkan skyglow.
Anak-anak kampung memiliki kesamaan dalam kehidupan sosial dan etika. Mereka masih meyakini nilai-nilai tradisional yang berpadu dengan cara pandang rasional. Larangan sederhana seperti “jangan duduk di meja, nanti banyak utang!”.
Hal itu bukan takhayul, melainkan norma sosial yang menanamkan etika dan kehati-hatian dalam bertindak. Mereka patuh pada nasihat “pamali” tanpa banyak bertanya, karena dalam kesadaran mereka, itu adalah bentuk kearifan yang menjaga keseimbangan hidup.
Keakraban dengan alam menjadi tanda bahwa kehidupan saat itu masih selaras dengan kehendak alam. Pergantian musim terasa jelas; enam bulan hujan, enam bulan kemarau, berjalan teratur tanpa gangguan. Istilah pemanasan global belum populer karena manusia masih menghormati tanah sebagai sumber kehidupan.
Tanah tidak membutuhkan teknologi canggih untuk bertahan, ia hanya perlu biji dan tunas. Di sekolah, anak-anak diajarkan menanam jagung di kebun sekolah, mencangkul, dan mengolah tanah. Pendidikan bercocok tanam menjadi bentuk penghormatan terhadap Bumi.
Perkampungan di masa itu masih rimbun oleh pepohonan besar. Setiap rumah memiliki pekarangan luas yang ditanami beragam pohon. Tidak ada keinginan menembok halaman atau membangun hingga ke pinggir jalan. Pekarangan menjadi jarak alami antara rumah dan jalan, memberi kesan lapang dan sejuk.
Konektivitas antarwilayah tidak diikat oleh jalan beton, tetapi oleh ruang terbuka hijau yang diisi tumbuhan. Udara pun bersih dan sejuk, pagi diselimuti kabut, malam diiringi orkestra alam dari serangga dan kodok. Anak-anak tidur nyenyak tanpa musik solfeggio, cukup ditemani suara satwa malam.
Wilayah selatan, dari Cikundul hingga Lembursitu, kala itu merupakan hamparan pepohonan tinggi yang dijaga secara alami. Masyarakat percaya setiap pohon besar memiliki penunggu, makhluk halus yang menjaga keseimbangan.
Dalam tafsir ilmiah, “penunggu” itu adalah mikroorganisme yang memancarkan gelombang delta dan theta, yang jika ditangkap otak manusia melalui hipotalamus, menimbulkan rasa tenteram dan rileks. Kepercayaan ini menumbuhkan kesadaran ekologis bahwa alam dan makhluk hidup di dalamnya harus dihormati, bukan dirusak.
Kini, masa itu telah berlalu. Manusia modern harus menata kembali cara berpikir dan bertindaknya agar tidak tercerabut dari akar kemanusiaannya. Keserakahan untuk menebang hutan dan menggali bumi demi mineral hanyalah bentuk kebodohan yang berulang.
Di alam semesta ini, batuan dan mineral sumber energi berlimpah, bahkan dapat ditemukan di setiap benda angkasa, dari asteroid hingga planet-planet terdekat Bumi. Berlian dan logam mulia bukanlah sesuatu yang langka di luar sana. Namun, tumbuhan sebagai sumber kehidupan sejati hanya tumbuh di satu titik kecil di galaksi Bima Sakti: Bumi.
Sumber gambar: unsplash
Tags
Kolom

