Sinergi Struktural dan Solidaritas Epik: Analisis Sosiologis Peringatan HUT ke-81 TNI di Kota Sukabumi

Hubungan antara institusi militer dan masyarakat sipil merupakan salah satu diskursus paling dinamis dalam kajian sosiologi politik dan sosiologi institusi. Militer tidak lagi dipandang semata-mata sebagai instrumen koersif negara, melainkan sebagai entitas sosial yang berinteraksi, beradaptasi, dan berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.

Fenomena tersebut tergambar secara nyata dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) tingkat Kota Sukabumi yang diselenggarakan di Lapang Merdeka pada 5 Oktober 2026. Kehadiran Wali Kota Sukabumi beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), personel Polri, organisasi kemasyarakatan (Ormas), hingga para siswa sekolah, memberikan lanskap sosial yang kaya untuk dianalisis.

Melalui kacamata sosiologi, peristiwa ini bukanlah sekadar seremonial tahunan, melainkan manifestasi dari upaya pemeliharaan kohesi sosial, integrasi struktural, dan akumulasi modal sosial di tengah masyarakat modern. Artikel ini akan membedah fenomena peringatan HUT ke-81 TNI di Kota Sukabumi menggunakan tiga kerangka teori sosiologi utama: Teori Solidaritas Sosial dari Emile Durkheim, Fungsionalisme Struktural dari Talcott Parsons, dan Konsep Modal Sosial dari Robert Putnam.

Ritual Seremonial sebagai Penguat Solidaritas Sosial (Perspektif Emile Durkheim)

Sosiolog klasik Emile Durkheim memandang bahwa masyarakat diikat oleh sebuah kesadaran kolektif (collective consciousness) yang terus-menerus diperbarui melalui ritual atau upacara sosial. Upacara HUT ke-81 TNI di Lapang Merdeka Sukabumi berfungsi sebagai instrumen sosiologis yang oleh Durkheim disebut sebagai ruang untuk menciptakan collective effervescence (kegembiraan kolektif).

Ketika beragam elemen—TNI, Polri, birokrat pemerintah, anggota Ormas, dan pelajar—berkumpul di satu ruang fisik yang sama, menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, dan mendengarkan amanat yang sama, batasan-batasan sektoral dan primordial melebur menjadi satu identitas kolektif yaitu warga negara Indonesia.

Kehadiran Wali Kota, Ketua DPRD, Dandim 0607, Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri, hingga Ketua Pengadilan Negeri menunjukkan bentuk "Solidaritas Organik" dalam masyarakat modern. Berbeda dengan masyarakat tradisional yang disatukan oleh kesamaan (solidaritas mekanik), masyarakat modern di Kota Sukabumi disatukan oleh pembagian kerja dan saling ketergantungan antar-institusi.

TNI dengan fungsi pertahanannya, Polri dengan fungsi keamanan dan ketertibannya, serta Pemda dengan fungsi pelayanan publiknya, tampil bersama untuk menegaskan bahwa kedaulatan dan kemakmuran daerah tidak dapat dicapai secara individual. Keterlibatan siswa sekolah juga memiliki makna sosiologis sebagai proses sosialisasi nilai-nilai patriotisme dan kedisiplinan kepada generasi penerus, memastikan transmisi nilai antar-generasi berjalan dengan baik.

Fungsionalisme Struktural dan Ekulibrium Sosial Kota Sukabumi (Perspektif Talcott Parsons)

Dalam teori Fungsionalisme Struktural yang digagas oleh Talcott Parsons, masyarakat dianalogikan sebagai sebuah sistem biologis atau mesin kompleks yang terdiri dari berbagai subsistem yang saling terhubung. Agar sistem masyarakat dapat bertahan, ia harus memenuhi empat prasyarat fungsional yang dikenal dengan skema AGIL: Adaptation (Adaptasi), Goal Attainment (Pencapaian Tujuan), Integration (Integrasi), dan Latency/Pattern Maintenance (Pemeliharaan Pola).

Pernyataan Wali Kota yang menegaskan bahwa semangat persatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran adalah bagian dari semangat pembangunan di Kota Sukabumi, sangat relevan dengan skema AGIL ini.

  1. Adaptation (TNI/Polri): Menghadapi lingkungan strategis yang berubah dan ketidakpastian global, TNI berfungsi sebagai subsistem adaptif yang memastikan keamanan dan kedaulatan negara dari ancaman fisik maupun informasi.
  2. Goal Attainment (Pemerintah Daerah): Subsistem politik yang dipimpin oleh Wali Kota bertugas merumuskan kebijakan, memobilisasi sumber daya, dan memandu masyarakat mencapai tujuan bersama, yakni kemakmuran daerah.
  3. Integration (Hukum dan Tokoh Masyarakat): Kehadiran lembaga peradilan (Kejaksaan, Pengadilan) dan Forkopimda berfungsi sebagai subsistem integrasi yang mengoordinasikan hubungan antar-elemen agar terhindar dari konflik struktural.
  4. Latency (Keluarga, Pendidikan, Agama): Keterlibatan siswa sekolah merepresentasikan subsistem kultural yang memelihara pola dan nilai-nilai fundamental bangsa.

Kolaborasi dan kebersamaan seluruh elemen yang didorong oleh Pemda Sukabumi membuktikan bahwa sistem sosial di kota ini berupaya mencapai ekuilibrium atau titik keseimbangan. Tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” bukanlah hanya jargon, melainkan deskripsi fungsional bahwa militer membutuhkan dukungan warga sipil, dan sebaliknya, warga sipil membutuhkan stabilitas yang dijamin oleh militer untuk dapat menjalankan aktivitas ekonomi dan sosialnya.

Mengelola Modal Sosial melalui Kepercayaan Publik (Perspektif Robert Putnam)

Amanat Panglima TNI yang dibacakan dalam upacara tersebut memberikan penekanan yang sangat kuat pada variabel "kepercayaan masyarakat". Dalam kacamata sosiologi politik Robert Putnam, kepercayaan (trust) adalah elemen inti dari Modal Sosial (Social Capital), selain norma timbal balik (reciprocity) dan jaringan sosial (networks). Tingginya kepercayaan masyarakat kepada TNI diklaim sebagai hasil dari dedikasi, loyalitas, kerja keras, dan pengabdian prajurit.

Institusi militer yang tidak memiliki modal sosial akan menghadapi resistensi dan alienasi dari masyarakatnya sendiri. Namun, ketika TNI berhasil mengakumulasi modal sosial yang tinggi, seperti yang terlihat dari antusiasme masyarakat Sukabumi dalam peringatan HUT tersebut, maka legitimasi institusional mereka menjadi sangat kuat.

Panglima TNI secara implisit menyadari bahwa alat utama sistem persenjataan (alutsista) secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa adanya dukungan sosiologis dari rakyat. Modal sosial ini berfungsi sebagai "pelumas" yang mengefisienkan interaksi antara sipil dan militer, memungkinkan program-program teritorial militer di daerah (seperti TMMD atau penanggulangan bencana di Sukabumi) berjalan dengan partisipasi masyarakat yang tinggi.

Kepercayaan ini disebut oleh Panglima sebagai "kehormatan sekaligus amanah", yang dalam bahasa sosiologi berarti bahwa modal sosial bukanlah sesuatu yang permanen; ia harus terus direproduksi melalui tindakan-tindakan sosial yang konsisten dan pro-rakyat. Jika terjadi penyimpangan oleh oknum, maka modal sosial tersebut dapat tergerus, yang pada gilirannya akan merusak sinergi sipil-militer.

Transformasi Institusional: Merespons Dinamika Perubahan Sosial

Masyarakat modern ditandai dengan disrupsi teknologi dan arus informasi yang masif. Amanat Peringatan HUT ke-81 TNI merespons fenomena sosiologis ini melalui tuntutan agar prajurit peka terhadap perubahan lingkungan strategis, termasuk dinamika ruang informasi dan kognitif. Dalam sosiologi kontemporer, ruang kognitif masyarakat adalah medan pertempuran baru (perang asimetris) di mana persepsi, ideologi, dan nilai-nilai sosial diperebutkan.

Untuk menghadapi tantangan ini, TNI memperkenalkan lima nilai PRIMA: Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif. Secara sosiologis, kelima nilai ini adalah upaya rekonstruksi budaya organisasi. Budaya organisasi militer yang dahulu identik dengan kekakuan dan hierarki ketat, kini dituntut untuk lebih Adaptif dan Responsif terhadap realitas sosial yang cair (konsep liquid modernity dari Zygmunt Bauman). 

Menjadi Modern bukan hanya soal pembaruan alutsista, melainkan modernisasi mentalitas prajurit dalam berinteraksi dengan masyarakat sipil yang semakin kritis dan terliterasi secara digital. Pembentukan budaya pengabdian ini diharapkan menjadi landasan bagi prajurit dalam berpikir, bersikap, dan bertindak di tengah kompleksitas kehidupan sosial Kota Sukabumi maupun di tingkat nasional.

Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Daerah

Aspek sosiologis terakhir yang patut disoroti adalah korelasi antara stabilitas pertahanan dan kesejahteraan personel, seperti yang disinggung dalam amanat Panglima TNI mengenai peningkatan kesejahteraan. 

Terdapat hubungan dialektis antara kondisi material (kesejahteraan ekonomi prajurit) dengan profesionalisme (superstruktur ideologis prajurit). Prajurit yang sejahtera dan alat ukur kerjanya jelas akan lebih mampu berkonsentrasi pada pengabdian sosial dan profesionalismenya, menjauhi potensi gesekan sosial di tingkat akar rumput yang sering kali dipicu oleh ketimpangan ekonomi.

Bagi Kota Sukabumi, sinergi yang terbangun dalam peringatan ini membawa implikasi langsung terhadap pembangunan sosial. Pembangunan yang adil dan makmur membutuhkan prasyarat mutlak: rasa aman dan stabilitas sosial. Ketika pemerintah daerah, Polri, aparat hukum, dan masyarakat bergandengan tangan dengan institusi TNI yang profesional dan modern, terciptalah sebuah ekosistem sosial yang kondusif bagi pertumbuhan investasi, peningkatan kualitas pendidikan, dan pemerataan ekonomi.

Peringatan HUT ke-81 TNI di Kota Sukabumi telah melampaui batas seremonial dan bertransformasi menjadi panggung di mana teori-teori sosiologi menemukan wujud praktisnya. Solidaritas sosial yang dibangun melalui kehadiran lintas sektoral di Lapang Merdeka, fungsionalisme struktural yang mengikat setiap institusi pada perannya masing-masing dalam menjaga ekuilibrium kota, serta kuatnya modal sosial berupa kepercayaan publik terhadap nilai-nilai TNI PRIMA, seluruhnya membentuk jalinan kokoh yang menyokong ketahanan wilayah. 

Kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran yang dicita-citakan bukan sekadar slogan negara, melainkan sebuah konstruksi sosial yang sedang dan terus dibangun secara kolaboratif oleh seluruh elemen bangsa di Sukabumi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak