
Saat para petani di Kelurahan Situmekar melaksanakan panen padi dengan konsep pertanian modern, ketika mesin pemotong padi bergerak, imajinasi saya terbawa ke masa ketika umat manusia baru memasuki era revolusi pertanian. Sebuah revolusi yang telah membawa umat manusia pada kondisi pemenuhan pangan secara mandiri tanpa mengandalkan kegiatan berburu dan meramu. Itulah awal perjalanan kehidupan manusia, bukan hanya untuk mempertahankan spesiesnya, melainkan juga menambah populasi di berbagai kawasan.
Sekitar 12.000 tahun lalu, areal persawahan di Situmekar, Kecamatan Lembursitu, yang kini dipanen oleh Kelompok Tani Mekarsari, mungkin masih berupa rawa dan hutan yang ditumbuhi berbagai vegetasi, berbaur dengan aneka satwa.
Lahan-lahan persawahan dengan konsep konvensional mulai dibuka setelah keruntuhan Kerajaan Pajajaran, diiringi pembukaan lahan-lahan tertutup menjadi areal permukiman sederhana. Kemudian, kita menyaksikan hari ini bahwa lahan tersebut telah menjadi areal persawahan di antara gedung, perumahan, dan pertokoan.
Imajinasi saya tentang era revolusi pertanian tersebut memiliki relevansi dengan kenyataan bahwa pertanian modern kini mengalami penyusutan luas lahan. Kondisi ini seolah membawa kita kembali ke era awal revolusi pertanian, ketika umat manusia baru membuka lahan pertanian dalam jumlah terbatas, hanya untuk memenuhi kebutuhan kelompok komunal.
Kemunculan kelompok tani tidak jauh berbeda dengan situasi ketika pertanian masih dikerjakan secara komunal pada era awal revolusi pertanian. Perbedaannya terletak pada lingkungan di sekitarnya. Jika dahulu areal persawahan dikelilingi hutan dan rawa, saat ini lahan pertanian dikelilingi bangunan dan infrastruktur.
Pada Rabu, 14 Oktober 2026, dilaksanakan panen dengan sistem pertanian modern tingkat lanjut. Kementerian Pertanian Republik Indonesia menginisiasi kegiatan ini. Kelompok tani dari setiap kecamatan turut hadir untuk menyaksikan lahan pertanian yang akan segera dipanen. Panen dengan sistem intensifikasi pertanian tingkat lanjut ini merupakan yang pertama di Kota Sukabumi.
Berdasarkan estimasi, sistem yang memadukan teknologi pertanian terkini ini dapat menghasilkan 12–13 ton padi per hektare. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan hasil panen rata-rata setiap musim, yang berkisar antara 5–6 ton padi per hektare.
Bagi para petani di Kota Sukabumi, hal ini menjadi pertanda baik. Dengan sistem mutakhir, mereka berpeluang meningkatkan hasil panen padi. Walakin, hal terpenting yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani tidak hanya berkutat pada sistem pertanian yang dikembangkan.
Ada hal penting yaitu regulasi pemerintah dalam menyediakan sarana penunjang pertanian, seperti pupuk bersubsidi, pasokan benih unggul, dan akses terhadap infrastruktur lainnya. Salah satunya adalah ketersediaan irigasi yang mampu memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau seperti saat ini.
Faktanya, pada musim panen tahun ini, selama satu setengah bulan terakhir, terhitung sejak Agustus 2026, daerah penyangga pertanian seperti Cibeureum, Baros, dan Lembursitu mengalami kekeringan yang cukup signifikan. Tanpa sistem irigasi yang memadai atau mesin pompa air berkapasitas besar, lahan-lahan pertanian di kawasan tersebut kesulitan memperoleh pasokan air.
Peran strategis pemerintah dalam hal ini adalah melakukan pendataan dan pemetaan terhadap daerah penyangga pertanian yang mengalami kekurangan air hingga tidak mendapatkan pasokan sama sekali. Selanjutnya, pemerintah perlu merancang kebijakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya musim kemarau panjang pada masa mendatang.
Sepanjang linimasa revolusi pertanian hingga revolusi industri, perkembangan sejarah manusia di bidang pertanian cukup mencengangkan. Selama kurun waktu sekitar 12.000 tahun, manusia telah mencapai era keterpaduan berbagai bidang kehidupan, termasuk perpaduan antara hasil revolusi pertanian dan revolusi industri.
Pada era awal revolusi pertanian, umat manusia mengolah lahan dengan cara mencangkul dan menggarapnya menggunakan ketangkasan serta kekuatan tangan. Di era sekarang, manusia dapat mengolah lahan dalam waktu satu hingga dua jam dengan bantuan mesin.
Kelompok Tani Mekarsari, kendati peralatannya relatif masih sederhana, telah mampu merakit mesin penuai padi. Alat ini digunakan untuk memanen padi dengan sistem AAS (Advance Agriculture System). Teknologi tersebut terbilang sederhana jika dibandingkan dengan peralatan pertanian di negara-negara maju.
Walakin, teknologi ini merupakan satu langkah lebih maju dibandingkan dengan penggunaan alat pertanian konvensional. Pada musim panen, para petani sebelumnya menuai padi menggunakan parang, ani-ani, dan alat-alat sederhana yang terbuat dari kayu atau bambu. Dengan sistem mekanisasi ini, waktu yang dibutuhkan untuk memanen padi tentu dapat dipersingkat.
Jika kelompok tani memiliki iktikad dan inisiatif seperti ini, sudah seharusnya pemerintah menyediakan peralatan pertanian modern agar para petani dapat memanfaatkan waktu secara lebih efisien dan memperoleh hasil panen yang maksimal.
Harus diakui, beberapa tahun lalu, kelompok tani pernah mendapatkan bantuan mesin traktor. Namun, pengawasan dan pemanfaatannya masih bergantung pada pengelolaan masing-masing kelompok tani melalui sistem penggunaan secara bergiliran. Akibatnya, tanggung jawab terhadap perawatan dan perbaikan mesin terkadang menjadi kurang jelas.
Pertanian modern, sebagaimana disampaikan oleh Kepala BPRM Kementerian Pertanian dan Wakil Wali Kota Sukabumi, memang memerlukan keterpaduan data dan pengolahan yang presisi. Teknologi tidak akan tepat guna apabila keterpaduan antarpihak diabaikan.
Dua belas ribu tahun setelah revolusi pertanian berlangsung, manusia bukan hanya membutuhkan ketangkasan dan kekuatan tangan, tetapi juga memerlukan perpaduan antara tenaga manusia, gagasan, data, dan berbagai aspek di luar sektor pertanian.
Beruntung, di Kota Sukabumi masih ada para petani yang siap diajak bekerja sama untuk mempersiapkan ketahanan dan swasembada pangan di Indonesia. Kang Warsa
Tags
Kolom