Ke Sagaranten di Musim Panas

Saya tidak terlalu sering ke Sagaranten. Sejak 2010 sampai 2026, mungkin perjalanan ke sana masih dapat dihitung dengan jari tangan. Hanya saja, setiap kali pergi ke tempat baru, selalu ada banyak hal yang tersisa dan perlu diceritakan.

Untuk kali pertama saya ke Sagaranten beberapa waktu lalu, saya menuangkannya dalam sebuah artikel yang kemudian dimuat salah satu harian di Sukabumi. Itu sekitar 2012, menjelang dunia akan berakhir seperti ramalan Suku Maya yang ketika itu ramai diperbincangkan. Perjalanan pertama tersebut rupanya meninggalkan kesan yang membuat saya selalu ingin kembali menceritakan Sagaranten dari waktu ke waktu.

Dari Kota Sukabumi ke Sagaranten dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dengan mobil atau sepeda motor, dengan jarak sekitar 55–60 kilometer. Sepanjang perjalanan, siapa pun yang menuju Sagaranten akan menemui medan alam yang tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju wilayah Sukabumi selatan; jalan berkelok-kelok, tanjakan dan turunan, serta pemandangan alam yang indah. Barangkali itu pula yang membuat saya selalu ingin mengisahkan kembali setiap perjalanan ke wilayah selatan Sukabumi, termasuk Sagaranten.

Jika saja kita memiliki mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, kontur alam yang memisahkan Kota Sukabumi dan Sagaranten, ratusan tahun lalu sebelum jalan utama terbentuk, mungkin merupakan benteng alam yang kokoh. Untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki, seseorang mungkin membutuhkan waktu tempuh lebih dari sepuluh jam dengan melewati medan yang bagi manusia saat ini terasa berat. Hutan lebat, ancaman satwa liar, serta kemampuan menahan rasa takut tentu menjadi bagian dari perjalanan menuju wilayah tersebut.

Seperti halnya dalam matematika, saya termasuk seseorang yang meyakini bahwa kehidupan manusia memiliki pola dan kesan yang terbentuk sejak awal. Ketika seseorang mengunjungi suatu tempat, pengalaman itu bisa saja merupakan pengulangan dari pola yang pernah dilakukan oleh nenek moyang atau leluhur. Begitu pula ketika saya datang ke Sagaranten, ada semacam berkas genetik dalam diri saya yang tiba-tiba terbuka, seolah leluhur saya memang pernah datang ke tempat ini ratusan tahun lalu.

Tempat itu, ketika pola yang sama tercipta, akhirnya tidak terasa asing bagi diri saya. Pengalaman ke Sagaranten sebetulnya hanya seperti pengulangan sebuah pola karena perangkat lunak yang tersimpan dalam diri, seperti gen yang diwariskan leluhur, seolah sudah tidak asing dengan lingkungan tersebut. Pola itu kemudian membentuk semacam cetak biru agar anak cucu yang mewarisi berkas tentang suatu tempat dapat menempuh kembali jalur yang pernah dilalui oleh leluhurnya.

Ada sinyal panggilan yang dipancarkan oleh alam, lalu diterima oleh generasi yang datang jauh setelahnya. Saya tidak tahu apakah gagasan semacam ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun, sebagai pengalaman batin, saya merasa menarik untuk menghubungkan perjalanan ke suatu tempat dengan kemungkinan adanya jejak yang pernah ditinggalkan oleh leluhur.

Kemarin, saya bersama beberapa teman, Haji Feri, Amran, Itok, dan Abaw, kembali mengunjungi Sagaranten. Apa pun alasannya, apakah hanya jalan-jalan, bermain, urusan bisnis, atau keperluan lainnya, semua itu mungkin hanya alasan di permukaan. Pada dasarnya, kembali mengunjungi Sagaranten seperti sebuah panggilan dari alam, seolah kami diajak untuk menyaksikan bagaimana kondisi wilayah tersebut dari tahun ke tahun dan dalam keadaan yang berbeda.

Kali ini saya mengunjungi Sagaranten pada musim panas. Beberapa waktu sebelumnya, saya dan teman-teman datang ke Sagaranten dalam sebuah perhelatan yang berbeda, yakni pemilihan kepala desa. Salah seorang teman mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Sagaranten dan sebagai bagian dari alumni sekolah, kami dimotori Haji Feri melakukan ikhtiar agar hajat teman tersebut terpenuhi.

Kami memutuskan melakukan aksi sosial melalui pengobatan gratis secara berkala. Bukan hanya itu, sebagai bentuk dukungan moril, pada hari pemilihan, kami juga datang ke Sagaranten untuk menyaksikan langsung riuh rendah pemilihan kepala desa. Dengan ikhtiar kecil tersebut, teman kami akhirnya keluar sebagai peraih suara terbanyak dan kemudian menjadi kepala desa.

Saat itu sedang musim hujan. Namun, ada anggapan di tengah masyarakat bahwa ketika berlangsung perhelatan besar, hujan dapat diminta untuk tidak turun dengan cara yang disebut disarang. Saya memandang hal tersebut sebagai bagian dari kearifan lokal, dan memang pemilihan kepala desa berlangsung tanpa hujan meskipun dilakukan pada musim penghujan. Hujan baru turun pada malam hari setelah “pesta kemenangan” dilangsungkan.

Kali ini kami datang ke Sagaranten ketika musim panas, saat pepohonan mulai meranggas karena panas, dedaunan layu dan sebagian mengering, sementara suhu udara terasa begitu menyengat. Kendati demikian, kami cukup beruntung karena perjalanan menggunakan mobil.

Dalam hitungan tahun, perubahan terlihat begitu cepat di sepanjang jalan. Dua tahun lalu, saya masih menyaksikan kawasan antara Purabaya dan Sagaranten didominasi pepohonan dan lahan terbuka hijau, sedangkan saat ini mulai diwarnai bangunan-bangunan baru. Beberapa puluh tahun lalu, untuk melalui jalan tersebut pada malam hari, mungkin kita akan berpikir panjang karena kondisi alam dan penerangan belum seperti sekarang.

Kini, siapa pun akan lebih berani melalui jalan yang telah dibeton dan dilengkapi penerangan, kendati perjalanan ditempuh pada tengah malam sekalipun. Perubahan itu tidak hanya membuat perjalanan menjadi lebih mudah, tetapi juga mengubah cara kita memandang jarak dan keterisolasian suatu wilayah. Jalan yang dahulu terasa seperti batas antara satu tempat dan tempat lain kini perlahan menjadi penghubung yang biasa dilalui.

Namun, sejauh yang dapat saya amati, jalan menuju Sagaranten berbeda dengan jalan menuju Pelabuhanratu dan Jampangkulon. Jalan Sagaranten lebih sepi dan sedikit dilalui kendaraan-kendaraan besar karena kawasan ini belum berkembang menjadi kawasan industri seperti Cikembar. Hal tersebut menjadi keuntungan bagi pengguna jalan karena pengendara sepeda motor maupun mobil tidak perlu terlalu sering berjibaku dengan kendaraan-kendaraan besar, sehingga arus lalu lintas relatif tidak terlalu padat.

Sebelum berangkat ke Sagaranten, kami sempat mengobrol ngalor-ngidul, termasuk membahas kemungkinan pemekaran wilayah. Kami membicarakan sejumlah kecamatan yang mungkin saja suatu saat menjadi bagian dari Kota Sukabumi. Saya berpendapat bahwa konteks hari ini sudah berbeda dengan beberapa tahun lalu, terutama pada awal reformasi ketika perubahan status wilayah dari kabupaten menjadi kota masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat menarik.

Pada masa itu, tidak sedikit masyarakat menyambut perubahan tersebut dengan penuh antusias. Stigma yang berkembang antara desa dan kota masih sangat kentara, sehingga ketika orang desa menjadi bagian dari kota, mereka merasa akan memperoleh akses yang lebih baik terhadap berbagai kebutuhan. Infrastruktur, pendidikan, pelayanan, perdagangan, dan konektivitas menjadi alasan yang cukup kuat bagi masyarakat untuk melihat kota sebagai tempat dengan peluang yang lebih besar.

Namun, konteks yang berkembang hari ini tidak lagi semata-mata membicarakan infrastruktur dan konektivitas. Jalan dan berbagai perangkat keras di wilayah pedesaan secara umum sudah jauh lebih baik, bahkan dalam beberapa hal tidak terlalu berbeda dengan yang ada di kota. Kota memiliki mal, desa memiliki minimarket, sementara orang desa pergi ke kota hanya untuk membeli kebutuhan yang tidak mereka temukan di desa dan biasanya bersifat temporal.

Perguruan tinggi memang lebih banyak berada di kota, tetapi anak-anak desa yang kuliah di kota dapat melakukannya dengan pola pergi-pulang. Justru mereka dapat menjadi agen perubahan di desa karena mulai membawa dan mereplikasi apa yang mereka lihat di kota untuk kemudian dibangun di lingkungannya sendiri. Desa pun sudah memiliki kafe, ruang berkumpul, pusat perdagangan, dan berbagai fasilitas yang dahulu lebih banyak ditemukan di kota.

Pelayanan publik juga dilakukan secara digital dan daring. Orang Wangunreja tidak perlu selalu pergi ke Nyalindung hanya untuk membuat KTP karena sebagian pelayanan dapat diakses melalui situs resmi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Teknologi membuat batas administratif antara desa dan kota semakin tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah yang saya lihat di Sagaranten dalam perjalanan kemarin. Wilayah desa telah bertransformasi begitu masif jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, baik dari sisi jalan, bangunan, penerangan, maupun aktivitas masyarakat. Sagaranten yang saya lihat sekarang perlahan menjadi wilayah yang berbeda dari Sagaranten yang saya kenal ketika pertama kali datang.

Mungkin itu pula yang membuat setiap perjalanan ke suatu tempat selalu meninggalkan cerita. Kita datang pada waktu yang berbeda, musim yang berbeda, dan dengan alasan yang berbeda, tetapi selalu menemukan perubahan yang sebelumnya tidak kita lihat. Kali ini saya datang ke Sagaranten pada musim panas dan menemukan sebuah wilayah yang sedang bergerak, tumbuh, serta meninggalkan wajah lamanya sedikit demi sedikit.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak