Photo: Istimewa
Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul kembali mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak berhenti ketika sampah diangkut dari rumah, pasar, pertokoan, atau kawasan permukiman. Sampah yang meninggalkan tempat asalnya tetap membawa persoalan menuju tempat pembuangan akhir. Ketika volume terus bertambah dan pengelolaannya belum sepenuhnya berubah, TPA pada satu titik dapat menjadi tempat bertemunya berbagai persoalan lingkungan.
Pada Selasa (29/9/2026), Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menghadiri apel penanganan kebakaran di TPA Cikundul. Sekitar 400 personel gabungan dikerahkan untuk menyisir titik-titik api dan panas yang tersebar di kawasan TPA. Petugas dibagi ke dalam tiga sektor dengan dukungan pemadam kebakaran, alat berat, penyemprotan air, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Namun, angka 400 personel itu sesungguhnya hanya menggambarkan besarnya energi yang harus dikeluarkan ketika persoalan sudah berubah menjadi keadaan darurat. Di balik pengerahan manusia, kendaraan, alat berat, air, masker, dan peralatan lain, terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu mengapa begitu banyak energi harus dikeluarkan untuk menangani sampah setelah persoalan membesar di tempat pembuangan akhir?
Kebakaran TPA memang tidak selalu dapat dibaca sesederhana hubungan antara banyaknya sampah dan munculnya api. Kondisi di dalam timbunan sampah memiliki karakter tersendiri. Pertemuan panas, gas metana, material mudah terbakar, serta kondisi angin dapat membuat titik api kecil berkembang dan menyebar melalui bagian-bagian tertentu dari timbunan.
Karena itu, penanganan kebakaran tetap membutuhkan tindakan cepat. Penyisiran titik asap, pembasahan, penguraian timbunan menggunakan alat berat, hingga pelokalisasian api menjadi pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Terlebih, pemerintah perlu memastikan api tidak merambat ke area aktif TPA dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Akan tetapi, pemadaman hanya menyelesaikan persoalan pada permukaan. Setelah api padam, sampah tetap ada. Timbunan tetap membutuhkan pengelolaan. Dan setiap hari sampah baru terus bergerak menuju Cikundul.
Data yang ada memberikan gambaran mengenai tantangan tersebut. Dari sekitar 193 ton sampah yang dihasilkan Kota Sukabumi setiap hari, sekitar 136 ton masih masuk ke TPA Cikundul. Artinya, sebagian besar sampah harian kota masih bergantung pada satu kawasan untuk ditampung dan dikelola.
Di sinilah kebakaran Cikundul dapat dibaca lebih jauh. Persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mengurangi beban yang setiap hari diterima TPA.
Rencana optimalisasi 13 TPS 3R pada 2027 menjadi salah satu arah yang menarik untuk dicermati. TPS 3R bukan hanya soal memindahkan lokasi pengelolaan sampah dari TPA ke tempat lain. Konsep tersebut akan memiliki arti apabila mampu mendorong pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
Sampah yang selesai dikelola di tingkat wilayah berarti sampah yang tidak perlu menempuh perjalanan menuju TPA. Dalam skala kota, pengurangan beberapa ton setiap hari dapat menghasilkan perubahan berarti terhadap beban Cikundul dalam jangka panjang.
Persoalannya kemudian bergeser dari membangun fasilitas menjadi membangun kebiasaan. Pemilahan sampah di rumah tangga, pasar, sekolah, perkantoran, tempat usaha, hingga kawasan permukiman menjadi bagian penting dari rantai pengelolaan. Tanpa perubahan pada sumber sampah, TPS 3R berisiko hanya menjadi titik tambahan dalam rantai pengangkutan.
Karena itu, kebakaran Cikundul semestinya tidak berhenti sebagai peristiwa yang dikenang karena kepulan asap dan pengerahan ratusan personel. Peristiwa ini dapat menjadi momentum untuk menghitung kembali berapa banyak sampah yang sebenarnya harus dibawa ke TPA, berapa yang dapat diselesaikan di tingkat lingkungan, dan berapa yang masih memiliki nilai ekonomi.
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: cara masyarakat melihat sampah. Selama sampah dianggap selesai ketika sudah masuk ke dalam kantong dan diangkut petugas, tanggung jawab pengelolaan akan selalu berhenti terlalu jauh dari sumbernya. Padahal, semakin dekat pengelolaan dilakukan dengan sumber sampah, semakin besar peluang pemilahan dan pemanfaatan dapat dilakukan.
Koordinasi lintas sektor menjadi penting. Penanganan kebakaran memperlihatkan bagaimana pemerintah, TNI, Polri, Damkar, BPBD, relawan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dapat bergerak bersama ketika keadaan mendesak. Tantangannya adalah membawa semangat koordinasi yang sama ke dalam pekerjaan yang berlangsung setiap hari: mengurangi sampah dari sumbernya.
Wakil Wali Kota menyebut penanganan kebakaran ini sebagai bahan evaluasi pengelolaan sampah Kota Sukabumi. Pernyataan tersebut menjadi penting karena kebakaran tidak hanya berbicara tentang api. Ia membuka kembali pembicaraan mengenai kapasitas TPA, pola pengangkutan, pengelolaan di tingkat wilayah, keberadaan TPS 3R, perilaku masyarakat, serta keberlanjutan sistem persampahan kota.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan Cikundul tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Ukuran yang lebih panjang adalah apakah setelah api padam, jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi secara konsisten.
TPA Cikundul yang ada di Santiong bukan hanya tempat bermuaranya sampah. Ia adalah cermin dari cara sebuah kota memperlakukan sampahnya. Api dapat dipadamkan dengan air, alat berat, dan kerja ratusan orang. Tetapi persoalan sampah hanya dapat dikurangi melalui perubahan sistem, kebijakan yang konsisten, teknologi yang tepat, serta kebiasaan masyarakat yang tumbuh dari rumah.
Kebakaran itu boleh berakhir. Namun, pertanyaan yang ditinggalkannya justru baru saja dimulai, berapa banyak sampah yang masih harus dikirim ke TPA Cikundul setiap hari, dan sampai kapan pola itu dapat dipertahankan?
Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul kembali mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak berhenti ketika sampah diangkut dari rumah, pasar, pertokoan, atau kawasan permukiman. Sampah yang meninggalkan tempat asalnya tetap membawa persoalan menuju tempat pembuangan akhir. Ketika volume terus bertambah dan pengelolaannya belum sepenuhnya berubah, TPA pada satu titik dapat menjadi tempat bertemunya berbagai persoalan lingkungan.
Pada Selasa (29/9/2026), Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menghadiri apel penanganan kebakaran di TPA Cikundul. Sekitar 400 personel gabungan dikerahkan untuk menyisir titik-titik api dan panas yang tersebar di kawasan TPA. Petugas dibagi ke dalam tiga sektor dengan dukungan pemadam kebakaran, alat berat, penyemprotan air, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Namun, angka 400 personel itu sesungguhnya hanya menggambarkan besarnya energi yang harus dikeluarkan ketika persoalan sudah berubah menjadi keadaan darurat. Di balik pengerahan manusia, kendaraan, alat berat, air, masker, dan peralatan lain, terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu mengapa begitu banyak energi harus dikeluarkan untuk menangani sampah setelah persoalan membesar di tempat pembuangan akhir?
Kebakaran TPA memang tidak selalu dapat dibaca sesederhana hubungan antara banyaknya sampah dan munculnya api. Kondisi di dalam timbunan sampah memiliki karakter tersendiri. Pertemuan panas, gas metana, material mudah terbakar, serta kondisi angin dapat membuat titik api kecil berkembang dan menyebar melalui bagian-bagian tertentu dari timbunan.
Karena itu, penanganan kebakaran tetap membutuhkan tindakan cepat. Penyisiran titik asap, pembasahan, penguraian timbunan menggunakan alat berat, hingga pelokalisasian api menjadi pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Terlebih, pemerintah perlu memastikan api tidak merambat ke area aktif TPA dan menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Akan tetapi, pemadaman hanya menyelesaikan persoalan pada permukaan. Setelah api padam, sampah tetap ada. Timbunan tetap membutuhkan pengelolaan. Dan setiap hari sampah baru terus bergerak menuju Cikundul.
Data yang ada memberikan gambaran mengenai tantangan tersebut. Dari sekitar 193 ton sampah yang dihasilkan Kota Sukabumi setiap hari, sekitar 136 ton masih masuk ke TPA Cikundul. Artinya, sebagian besar sampah harian kota masih bergantung pada satu kawasan untuk ditampung dan dikelola.
Di sinilah kebakaran Cikundul dapat dibaca lebih jauh. Persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mengurangi beban yang setiap hari diterima TPA.
Rencana optimalisasi 13 TPS 3R pada 2027 menjadi salah satu arah yang menarik untuk dicermati. TPS 3R bukan hanya soal memindahkan lokasi pengelolaan sampah dari TPA ke tempat lain. Konsep tersebut akan memiliki arti apabila mampu mendorong pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
Sampah yang selesai dikelola di tingkat wilayah berarti sampah yang tidak perlu menempuh perjalanan menuju TPA. Dalam skala kota, pengurangan beberapa ton setiap hari dapat menghasilkan perubahan berarti terhadap beban Cikundul dalam jangka panjang.
Persoalannya kemudian bergeser dari membangun fasilitas menjadi membangun kebiasaan. Pemilahan sampah di rumah tangga, pasar, sekolah, perkantoran, tempat usaha, hingga kawasan permukiman menjadi bagian penting dari rantai pengelolaan. Tanpa perubahan pada sumber sampah, TPS 3R berisiko hanya menjadi titik tambahan dalam rantai pengangkutan.
Karena itu, kebakaran Cikundul semestinya tidak berhenti sebagai peristiwa yang dikenang karena kepulan asap dan pengerahan ratusan personel. Peristiwa ini dapat menjadi momentum untuk menghitung kembali berapa banyak sampah yang sebenarnya harus dibawa ke TPA, berapa yang dapat diselesaikan di tingkat lingkungan, dan berapa yang masih memiliki nilai ekonomi.
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: cara masyarakat melihat sampah. Selama sampah dianggap selesai ketika sudah masuk ke dalam kantong dan diangkut petugas, tanggung jawab pengelolaan akan selalu berhenti terlalu jauh dari sumbernya. Padahal, semakin dekat pengelolaan dilakukan dengan sumber sampah, semakin besar peluang pemilahan dan pemanfaatan dapat dilakukan.
Koordinasi lintas sektor menjadi penting. Penanganan kebakaran memperlihatkan bagaimana pemerintah, TNI, Polri, Damkar, BPBD, relawan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dapat bergerak bersama ketika keadaan mendesak. Tantangannya adalah membawa semangat koordinasi yang sama ke dalam pekerjaan yang berlangsung setiap hari: mengurangi sampah dari sumbernya.
Wakil Wali Kota menyebut penanganan kebakaran ini sebagai bahan evaluasi pengelolaan sampah Kota Sukabumi. Pernyataan tersebut menjadi penting karena kebakaran tidak hanya berbicara tentang api. Ia membuka kembali pembicaraan mengenai kapasitas TPA, pola pengangkutan, pengelolaan di tingkat wilayah, keberadaan TPS 3R, perilaku masyarakat, serta keberlanjutan sistem persampahan kota.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan Cikundul tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Ukuran yang lebih panjang adalah apakah setelah api padam, jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi secara konsisten.
TPA Cikundul yang ada di Santiong bukan hanya tempat bermuaranya sampah. Ia adalah cermin dari cara sebuah kota memperlakukan sampahnya. Api dapat dipadamkan dengan air, alat berat, dan kerja ratusan orang. Tetapi persoalan sampah hanya dapat dikurangi melalui perubahan sistem, kebijakan yang konsisten, teknologi yang tepat, serta kebiasaan masyarakat yang tumbuh dari rumah.
Kebakaran itu boleh berakhir. Namun, pertanyaan yang ditinggalkannya justru baru saja dimulai, berapa banyak sampah yang masih harus dikirim ke TPA Cikundul setiap hari, dan sampai kapan pola itu dapat dipertahankan?
Tags
Analisis
